Minggu, 10 November 2013

makalah metodologi studi islam( islam sebagai sasaran studi)


ISLAM SEBAGAI SASARAN STUDI
DAN PENELITIAN
A. PENDAHULUAN
a). Latar Belakang
Didalam memahami ajaran agama Islam,kita amat tergantung pada kemampuan para ulama dalam menggali dan menarik kesimpulah hukum-hukum Islam dari sumbernya Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam perkembangannya pemikiran Islam tidak saja hanya berkisar tentang hubungan manusia dengan Tuhan ( transendental ), akan tetapi juga melibatkan kesadaran berkelompok ( sosiologis ), kesadaran pencarian asal-usul agama (antropologis ), dan pemenuhan kebutuhan untuk ketenangan jiwa ( psikologis ).
Dalam kultur masyarakat studi Islam ini dijadikan sebagai hal yang teramat penting karena masih ada perlu banyak hal yang dibahas mengenai Islam, dalam artian bukan tidak meyakini Islam itu, tetapi untuk membahas acuan utama Islam yaitu al-qur’an yang banyak memilki arti yang masih bersifat global dan hal ini perlu untuk dikaji dan ditelaah lebih dalam mengenai makna suatu ayat dalam Al-Qur’an yang masih bersifat global tersebut.
b). Rumusan Masalah
1.    Bagaimana Islam dijadikan sebagai sasaran studi?
2.    Apa peran agama sebagai gejala budaya dan sosial?
3.    Bagaimana Islam sebagai wahyu dan kultur masyarakat?
4.    Bagaimana studi Islam pada era kontemporer : Barat dan Timur Tengah?
c). Tujuan
1.    menjelaskan bagaimana Islam itu dijadikan sebagi sasaran studi
2.    mendeskripsikan peran agama sebagai gejala budaya dan sosial dalam masyarakat Islam
3.    menjelaskan bagaimana Islam sebagai wahyu dan kultur masyarakat
4.    menjelaskan bagaimana studi Islam pada era kontemporer : Barat dan Timur Tengah

B. ISLAM MENJADI  SASARAN STUDI DAN PENELITIAN
1.    ISLAM SEBAGAI SASARAN STUDI
a)      Pengertian
Penelitian (research) adalah upaya sistematis dan objektif untuk mempelajari suatu masalah dan menemukan prinsip-prinsip umum. Selain itu, penelitian juga berarti upaya pengumpulan informasi yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan manusia tumbuh dan berkembang berdasarkan kajian-kajian sehingga terdapat penemuan-penemuan, kemudian ia dapat merevisi pengetahuan-pengetahuan masa lalu melalui penemuan baru.[1]
Studi Islam adalah pengakajian tentang ilmu-ilmu ke Islaman, adapun yang dimaksud dengan ilmu ke Islaman adalah pengkajian tidak hanya pada aspek-aspek yang normatif dan dogmatif, tetapi juga menyangkut pengkajian aspek sosiologis. Sesungguhnya jika pengkajian Islam dilakukan secara demikian, maka akan terjadi pengujian secara terus-menerus atas fakta-fakta empiris ditengah masyarakat sebagai kebenaran nisbi oleh suatu kebenaran yang berasal dari wahyu, yaitu yang berasal dari dunia Adikodrat yang metafisik. Dengan kata lain, akan terdapat suatu rujukan agar membuat seseorang lebih memahami kedudukan segala sesuatu untuk berperan dalam kehidupannya. Ilmu-ilmu Islam, meliputi kepercayaan-kepercayaan normatif-dogmatik yang bersumber dari wahyu dan aspek perilaku manusia yang lahir oleh dorongan kepercayaan yang menjadi kepercayaan-kepercayaan empirik. Oleh karena itu ilmu-ilmu kemasyarakatan yang berasal dari tradisi keilmuan barat, tidak mungkin dapat merangkul dalam metode pengkajian kedua aspek yang dipandang tidak mungkin dipertemukan menurut hukum-hukum logika ilmu pengetahuan, dalam metode ilmiyah yang mengandalkan segi-segi obyektifitas berdasarkan penalaran dan bukti empiris.[2]

Agama sebagai objek penelitian sudah lama diperdebatkan, karena agama dianggap sebagai suatu yang transenden. Oleh karena itu agamawan cendrung berkeyakinan bahwa agama memilki kebenaran mutlak sehingga tidak perlu diteliti. Agama mengandung dua kelompok ajaran, pertama; ajaran dasar yang diwahyukan Tuhan melalui para Rasul-Nya kepada manusia. Ajaran dasar yang demikian terdapat dalam kitab-kitab suci. Ajaran-ajaran yang bersifat absolut, mutlak benar, kekal, tidak berubah dan tidak diubah. Kedua ; penjelasan-penjelasan para pakar agama membentuk kelompok kedua, bersifat relatif, tidak absolut, tidak mutlak benar, dan dapat diubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Sebagai usaha akademis, penelitian agama memasyarakatkan objek, metode, dan sistematika yang bisa dipertangggung jawabkan secara ilmiyah. Oleh karena itu konsep penelitian agama tidak bermaksud menemukan agama baru. Penelitian agama adalah pengkajian akademis terhadap agama sebagai realiats sosial, baik berupa teks, pranata sosial, maupun perilaku sosial yang lahir atau sebagai perwujudan kepercayaan suci.

b)     Ruang lingkup studi Islam
Islam sebagai produk sejarah telah memunculkan pemikiran tentang teologi Syi’ah, Khawarij, dan sebagainya, adalah merupakan bagian dari wajah Islam sebagai produk sejarah. Konsep Khilafaur-rasyidin juga merupakan produk sejarah, karena nama ini muncul belakangan. Seluruh bangunan sejarah Islam klasik, tengah, dan modern adalah produk sejarah. Begitu juga hasil pemikiran dalam berbagai bidang kajian seperti filsafat Islam, fiqh, ushul fiqh sebagai ilmu, dan lain-lain adalah produk sejarah. Begitu juga dengan Akhlak sebagi nilai yang bersumber dari wahyu, tetapi sebagi ilmu yang sistematir.

Seiring dengan apa yang dikemukakan diatas, bahwa isu-isu yang menjadi perhatian dalam penelitian agama dikategorikan kedalam empat kelompok sebagai berikut :
a)      Agama sebagai ajaran, doktrin, dan simbol yang dipercayai, dihayati, dipikirkan, disakralkan, didakwahkan, dijunjung tinggi, dibela, dijaga, dipertahankan, dan dikembangkan oleh manusia, karena dianggap sebagi jalan keselamatan hidup didunia dan di akhirat. Islam sebagai ajaran ini terangkum dalam kitab sicu Al-Qur’an, Hadist Nabi SAW, dan ilmu-ilmu Islam yang menyertainya, seperti ; Ulumul-Qur’an, Ulumul Hadist, Asbabun-Nuzul, Musthalatul-Hadist, dan sebagainya.
b)      Perilaku beragama, yaitu tingkah laku manusia dalam beragama, yaitu meliputi bagaimana manusia memikirkan, merasakan, menghayati, mendakwahkan, mensakralkan, membela, dan mempertahankan.
c)      Sistem sosial dan organisai keagamaan, yang meliputi struktur, hubungan antar komponen dalam masyarakat, perilaku organisasi, doktrin proses organisasi, rekrutmen anggota, dan sebagainya.
d)     Isu-isu kontemporer: masalah gender, pluralisme agama, hubungan antar agama, (kerjasama, konflik, dan kompetisi ), agama dan ekonomi, agama dan politik, agama dan HAM, dan lain-lain.
Ruang lingkup kajian dalam penelitian agama meliputi kajian tentang Tuhan, kitab suci, etika, dan moralitas serta organisasi keagamaan dan pemasalahan kontemporer.[3]




2.    AGAMA SEBAGAI GEJALA BUDAYA DAN SOSIAL
a)      Agama sebagai gejala budaya
Pada awalnya ilmu hanya ada dua, yaitu : ilmu kealaman dan ilmu budaya. Ilmu kealaman, seperti fisika, kimia, biologi dan lain-lain mempunyai tujuan utama mencari hukum- hukum alam, mencari keteraturan-keteraturan yang terjadi pada alam. Oleh karena itu suatu penemuan yang dihasilkan pada suatu waktu mengenai suatu gejala atau sifat alam dapat dites kembali oleh peneliti lain, pada waktu lain, dengan memperhatikan gejala eksak. Contoh, kalau sekarang air mengalir dari atas kebawah, besok apabila dites lagi juga hasilnya begitu. Itulah inti dari penelitian dalam ilmu-ilmu eksak, yakni mencari keterulangan dari gejala-gejala yang kemudian diangkat menjadi teori dan menjadi hukum. Sebaliknya ilmu budaya mempunyai sifat tidak berulang tetapi unik[4]. Sebagai contoh, budaya suatu kelompok masyarakat   unik   buat   keleompok   masyarakat   tersebut,   sebuah situs sejarah unik untuk situs tersebut dan sebagainya dan disini tidak ada keterulangan.
Menurut M.Atho Mudzhar, di antara penelitian kealaman dan budaya, terdapat penelitian-penelitian ilmu-ilmu sosial. Sebab penelitian ilmu sosial berada  diantara ilmu budaya dan ilmu kelaman, yang mencoba untuk memahami gejala-gejala yang tidak berulang tetapi dengan cara memahami   keterulangannya. Karena   itu,   penelitian   ilmu   sosial mengalami problem dari segi objektivitasnya. Apakah penelitian sosial itu objektif dan dapat dites   kembali   keterulangannya? Untuk menjawab pertanyaan  ini,  ada dua  aliran yang   dapat digunakan, yaitu : Pertama, aliran yang menyatakan bahwa penelitian sosial lebih dekat dari pada penelitian budaya, ini berarti sifatnya unik. Misalnya saja, penelitian antropologi   sosial,   lebih dekat pada ilmu budaya. Kedua, aliran yang menyatakan bahwa ilmu sosial lebih dekat kepada ilmu   kealaman,   karena   fenomena   sosial   dapat  berulang   terjadinya   dan   dapat   dites   kembali.
Untuk mendukung pendapat mengenai keteraturan itu, maka dalam ilmu sosial digunakan ilmu-ilmu statistik yang juga digunakan dalam ilmu-ilmu kelaman. Perkembangan selanjutnya, sekarang ini ada ilmu statistik khusus untuk ilmu-ilmu sosial yang digunakan untuk mengukur gejala-gejala sosial secara lebih cermat dan lebih signifikan. Dapat dikatakan bahwa inti ilmu kealaman adalah ”positifisme”. Suatu penemuan, baru dikatakan atau dianggap sebagai ilmu apabila memenuhi syarat, yaitu: dapat   diamti   (observable), dapat   diukur   (measurable), dapat   dibuktikan (verifiable). Ilmu budaya hanya dapat diamati dan kadang-kadang tidak dapat diukur apalagi diverifikasi. Sedangkan ilmu sosial lebih dekat kepada ilmu alam mengatakan bahwa ilmu sosial dapat   diamati,   diukur   dan   diverifikasi.   Oleh   karena   itu,   para   ilmuan   sosiologi   dari   Universitas Chicago   mengembangkan  sosiologi   kuantitatif  yang  lebih menekankan   pada   perhitungan- perhitungan statistik dan juga dikalangan sosiologi Indonesia berada pada dua posisi tersebut, yaitu kelompok kuantitatif  dan kelompok kualitatif.[5]
Sehubungan dengan hal ini berdasarkan asumsi bahwa Islam diturunkan Allah adalah untuk membimbing dan mengarahkan serta menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan agama dan budaya ummat manusia dimuka bumi.[6]
b)     Agama Sebagai Gejala Sosial
Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin tentunya mempunyai konsep atau ajaran yang bersifat manusiawi dan universal, yang dapat menyelamatkan ummat manusia dan alam semesta dari kehancurannya. Oleh karean itu, Islam harus bisa menawarkan nilai, norma, dam aturan hidup yang bersifat manusiawi dan universal itu kepada manusia modern, dan diharapkan dapat memberikan alternatif pemecahan terhadap problematis ummat manusia yang hidup di dunia modern dan era global ini.[7]
Ajaran agama Islam telah tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan akal dan sosial budaya masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ajaran Islam telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan akal pikiran manusia serta sosial budayanya untuk mewujudkan suatu sosial budaya dan masyarakat yang Islami.
Agama yang terwujud dalam bentuk tindakan dan sikap manusia merupakan produk interaksi sosial. Oleh karena itu, ia merupakan bagian dari ilmu sosial dan ilmu sejarah, hubungan kiyai dan santri dalm lingkungan lembaga pesantren, interaksi antara ulama dan umara, dalam kehidupan politik, antara inetraksi kiyai dan masyarakat sekitarnya merupakan wilayah kajian dalam ilmu ini.[8]

3.    ISLAM SEBAGAI WAHYU DAN KULTUR MASYARAKAT
a)      Islam Sebagai Wahyu
Islam   biasanya   didefinisikan   sebagai   berikut: al-Islam   wahyu   ilahiyun   unzila   ila   nabiyyi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam lisa’adati al-dunya wa al akhirah  (Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat). Jadi, inti Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Maka kita percaya bahwa wahyu itu terdiri atas dua macam, yaitu : (1) wahyu yang berbetuk al- Qur’an, dan (2) wahyu yang bernetuk hadis, sunnah Nabi Muhammad saw.[9]

Sebagai mana sudah disinggung diatas, bahwa agama mengandung dua kelompok ajaran, Pertama, ajaran dasar yang diwahyukan Tuhan melalui para Rasul-Nya kepada masyarakat manusia. Ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab suci itu memerlukan penjelasan tentang arti dan cara pelaksanaannya. Penjelasan para pemuka atau pakar agama membentuk ajaran agama kedua.
Ajaran dasar agama, karena merupakan wahyu dari Tuhan, bersifat Absolut,mutlak benar, kekal, tidak pernah berubah, dan tidak bisa diubah. Sedangkan penjelasan ahli agama terhadap ajaran dasar agama,karena hanya merupakan penjelasasn dan hasil pikiran, tidak absolut, tidak mutlak benar, dan tidak kekal. Bentuk ajaran agama ynag kedua ini bersifat relatif, nisbi, berubah, dan dapat diubah sesuai dengan perkembangan zaman.[10]
M.Atho Mudzhar, mengatakan bahwa kajian Hadis sama dengan kajian terhadap al-Qur’an yang merupakan kibat yang masih berisfat universal penjelasannya membutuhkan studi interdisipliner, dalam hadist pun usaha ini perlu dilakukan. Katakan saja, Hadis mengenai psikologi, pendidikan, iptek dan sebagainya yang perlu dikelompokan dan dibandingkan dengan hasil penemuan ilmu modern. Sebagai contoh, mengenai   hadis  ”idza   waqa’a   al-dzubabu   fi   inai   ahadikum   falyaqmishu  (artinya:   ketika sadar lalat terjatuh ke dalam bejanamu, maka benamkanlah). Hadis   ini  diterangkan   dalam   kitab Subulu al-Salam, bahwa pada sayap kanan mengandung ini dan pada sayap kiri mengandung  itu. Penjelasan terhadap hadis ini memerlukan satu upaya untuk mencoba mengadakan studi  interdispliner   terhadap   hadis   tersebut,   barangkali   memerlukan   ilmu  tentang   serangga   untuk membuktikan secara emperik terhadap pernyataan Hadis tersebut.




b)     Islam sebagai Kultur Masyarakat.
Mengenai agama sebagai gejala sosial, pada dasarnya bertumpu pada sosiologi agama. Pada zaman dahulu, sosiologi   agama   mempelajari   hubungan   timbal-balik antar agama dan masyarakat.Artinya, masyarakat mempengaruhi agama      dan agama mempengaruhi masyarakat.Para ahli sosiologi agama, mulai mempelajari bukan hanya pada soal hubungan timbal-balik saja, melainkan lebih kepada pengaruh agama terhadap perilaku atau tingkah laku masyarakat, artinya bagaimana agama sebagai sistem nilai dapat mempengaruhi tingkah laku masayarakat dan bagaimana pengaruh masyarakat terhadap pemikiuran-pemikiran keagamaan.
Dari pandangan tentang agama sebagai gejala budaya  dan sebagai  gejala   sosial,elemen-elemen yang harus diketahui dalam Islam adalah persoalan  teologi, kosmologi, dan antropologi yang tentu menyangkut dengan persoalan sosial kemanusian dan budaya. Agama Islam merupakan suatu agama yang membentuk suatu masyarakat dan berperadaban. Maka pendekatan yang digunakan dalam memahami Islam, menurut Mukti Ali adalah metode filosofis, karena mengkaji    hubungan manusia dan Tuhan yang dibahas dalam filsafat.  Dalam arti pemikiran “metafisik” yang umum dan bebas. Selain itu metode-metode ilmu manusia juga perlu digunakan, karena dalam agama Islam masalah kehidupan manusia di  bumi   ini  dibahas. Metode lain, yaitu metode sejarah dan   sosiologi   yang   Islam   juga   merupakan agama yang membentuk suatu  masyarakat dan peradaban serta  mengatur hubungan manusia dengan manusia. [11]



4.    STUDI ISLAM ERA KONTEMPORER : BARAT DAN TIMUR TENGAH
a)      Studi Islam di Barat
Belajar Islam ke Barat memang sudah lama jadi masalah kontroversial. Sebab, dengan logika sederhana saja, orang dapat berpikir bahwa setiap disiplin ilmu haruslah dipelajari dari ahlinya (atau dari bangsa yang dikenal maju dalam bidang itu). Orang yang belajar pesawat terbang ke Jerman, belajar komputer ke Amerika, belajar kimia ke Perancis, dan sebagainya tentu itu sangat relevan. Janganlah terbalik: belajar ekonomi di negara yang kelaparan, belajar kedokteran di negara yang rawan penyakit, belajar elektro di negara yang minim listrik, apalagi belajar "agama" tertentu kepada orang yang antiagama tersebut, tentu saja dirasakan kurang tepat, kalau tidak dikatakan "ngaco".
Sementara beberapa kalangan mengganggap metodologi Barat lebih unggul, tetapi sebenarnya di situlah letak kerancuannya. Karena kerancuan metodologi, maka ilmu apa pun yang dipelajari dari Barat akan menghasilkan tashawwuf 'gambaran' yang serupa. Tidak hanya belajar tentang Islam, belajar yang lainnya, seperti politik, sosiologi, filsafat, dan ilmu-ilmu humanitas lainnya yang dikaitkan dengan Islam, akan sampai pada kesimpulan yang sama. Yaitu, menempatkan Islam pada posisi sebagai "tertuduh" yang harus dihukum. Jadi, bagi yang belajar politik Islam hanya bisa melihat gambaran-gambaran negatif dalam sejarah percaturan politik Islam. Mereka yang belajar sosiologi dan filsafat juga akan mendapatkan kesan-kesan negatif tentang masyarakat Islam dan sejarah pemikirannya.
Namun, bukan berarti bahwa penulis secara total menolak belajar ke Barat. Mungkin saja dibolehkan untuk kondisi tertentu dan dalam batas-batas tertentu pula. Tetapi, dalam kondisi yang minus ulama, tingkat pemahaman agama Islam yang amat sederhana, tentu belajar ke Barat memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang lebih matang dan terencana. Bila kita membuat perbandingan dengan Mesir, misalnya, yang telah "banjir" ulama, "doktor", dan sarang para pemikir, kualitas pendidikan yang relatif mapan, toh belajar Islam ke Barat tidak pernah menjadi program mereka. Bahkan, tidak pernah didorong atau digalakkan, kecuali sekadar usaha-usaha individual yang sangat terbatas.
v  Lemah Materi dan Metodologi

·         Ada sementara orang berasumsi bahwa studi Islam di dunia Arab kaya dengan materi tetapi lemah di bidang metodologi. Sementara di sisi lain, studi Islam di Barat miskin materi tetapi kaya dalam metodologi. Benarkah Barat lebih baik dari segi metodologi? Kalau secara materi, itu sudah dapat diduga, di dunia Arab lebih baik ketimbang di Barat.
·         Secara materi, Barat sampai saat ini tidak mampu mengeluarkan sarjana-sarjana yang menguasai bidang-bidang tertentu dari ilmu Islam, seperti ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, ahli bahasa, ahli sejarah, dan sebagainya. Selain itu, karya ilmiah yang dihasilkan oleh orientalis dalam bidang keislaman belum terlihat berarti dibanding karya-karya yang ditinggalkan ulama.
·         Adapun yang dilakukan oleh kaum orientalis pada umumnya ialah mengumpulkan manuskrip, memberi komentar buku-buku klasik dan menerjemahkannya ke bahasa-bahasa Eropa. Yang agak bernilai dari karya mereka adalah ensiklopedi hadits (Al-Mu'tazilah'jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits) dan sejarah sastra Arab (Tarikh al-Adab al-'Arabi) karya Karl Brockelmann. Karya yang pertama memang bermanfaat bagi orang-orang yang baru mengenal hadits. Tetapi, dia bukanlah segala-galanya dalam dunia hadits. Kitab-kitab ensiklopedi hadits yang lebih lengkap telah lebih dahulu diwariskan oleh ulama-ulama hadits. Hanya saja metodenya berbeda. Bahkan, kekeliruan dan kelemahan-kelemahan karya orientalis itu cukup banyak dan dihimpun dalam buku Adhwa 'ala Akhtha' al-Mustasyriqin oleh Dr. Sa'ad al-Murshafi.
·         Sebagian besar karya-karya orientalis diwarnai oleh sikap-sikap seperti memutarbalikkan fakta, memalsukan sejarah, menyalahpahami teks, serta menyusupkan kebohongan dan fitnah. Tetapi, secara umum karya-karya sebagian orientalis yang jujur itu kita hargai dan bermanfaat bagi sebagian peneliti, khususnya pemula. Tetapi, porsinya harus dilihat secara objektif, tanpa dilebih-lebihkan. Sebab, Semua itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan karya ulama-ulama kita yang klasik ataupun yang modern, yang tidak tertampung oleh perpustakaan mana pun di dunia ini, karena banyaknya.
·         Berbicara tentang sikap "objektif" dan "bebas" (tidak memihak) yang merupakan karakteristik ilmiah, maka para peneliti Barat dalam tulisan dan kajian mereka tentang Islam sulit sekali ditemukan sikap netral dan objektif ini. Mereka hanya mau bebas (dalam artian tidak memihak) ketika berhadapan dengan materi yang tidak ada hubungannya dengan kajian keislaman. Adapun terhadap kajian-kajian Islam, mereka tidak mampu melepaskan subjektivitasnya sebagai nonmuslim.
·         Barat hingga saat ini masih menyimpan gambaran suram dan jelek tentang Islam dan umatnya. Sebuah warisan "hitam" yang meracuni pemikiran mereka, yang mereka warisi sejak "Perang Salib" dan belum membuangnya hingga saat ini. Ini diakui sendiri oleh pemikir mereka, seperti Gustav Lobon, filsuf Perancis dan "moyangnya" kaum sosiolog dan sejarawan Barat di abad kesembilan belas. Ia menerangkan dalam bukunya, Peradaban Islam, bahwa peneliti-peneliti Barat dalam menerangkan masalah-masalah yang berhubungan dengan Islam akan menanggalkan sikap netral dan objektif . Peneliti Barat, tanpa disadarinya, pasti akan memihak dan intoleran. Buku inilah, kalau boleh dibilang "moderat", yang paling moderat yang ditulis oleh ilmuwan Barat tentang Islam dan peradabannya. Oleh karena itu pula, Gustav Lobon tidak dihargai, bahkan dibenci oleh orientalis Barat. Sikap penulis Barat yang tidak jujur pernah juga dibeberkan belakangan oleh Motegomery Watt, orientalis Inggris, dalam buku Apakah Islam?

v  Kelemahan Fundamental Orientalis
Para pengamat studi orientalis yang jujur mengemukakan beberapa kelemahan orientalis yang sulit dipungkiri siapa pun. Di antaranya sebagai berikut:

1.      Tidak menguasai bahasa Arab secara baik, sense bahasa yang lemah, dan pemahaman yang terbatas atas konteks pemakaian bahasa Arab yang variatif. Kelemahan ini tentu mempengaruhi pemahaman mereka atas referensi-referensi Islam yang inti, seperti Al-Qur'an dan As-Sunnah. Karena itu, pemahaman mereka tentang Islam dan risalahnya rancu dan kabur. Hal ini diungkapkan oleh Syaikh Musthafa as-Siba'i setelah ia meninjau langsung pusat orientalisme di sekitar Eropa dan berdialog langsung dengan para orientalis.
Para orientalis itu pada akhirnya banyak yang mengakui bahwa keterbatasan mereka dalam memahani materi-materi keislaman lebih menonjol ketimbang kelebihan metodologi yang mereka miliki. Bahkan, ada di antara mereka yang berterus terang bahwa Arablah (muslimlah) yang seharusnya memegang pekerjaan ini. Keterbatasan dalam menguasai bahasa Arab sangat mempengaruhi pemahaman mereka tentang Islam.
2.      Perasaan "superioritas" sebagai orang Barat. Ilmuwan Barat, khususnya orientalis, senantiasa merasa bahwa "Barat" adalah "guru" dalam segala hal, khususnya dalam logika dan peradaban. Mereka cenderung tidak mau digurui oleh orang Timur.
3.      Orientalis Barat sangat memegang teguh doktrin-doktrin mereka yang tidak boleh dikritik, bahkan sampai ke tingkat fanatik buta. Di antaranya dua doktrin inti, yaitu bahwa Al-Qur'an dalam pandangan insan Barat bukan kalam Allah dan Muhammad bukan rasul Allah. Doktrin ini sudah lebih dulu tertanam dalam pikiran mereka sebelum meneliti, sebab ini merupakan doktrin agama mereka yang ditanamkan sejak kecil. Sehingga, penelitian yang dilakukannya diarahkan hanya untuk mendukung asumsinya saja, bukan ingin mencari kebenaran secara objektif dan bebas. Karena itulah, peneliti-peneliti Barat menelan mentah-mentah riwayat-riwayat palsu, membesar-besarkan masalah kecil, menggunakan tuduhan palsu sebagai argumentasi, dan beralasan dengan sesuatu yang tidak diakui sebagi dalil. Mereka menolak semua pendapat yang berbeda dengan pikirannya, sekalipun itu benar dan argumentatif. Apa yang bisa diperoleh dari manusia-manusia seperti ini? Dari segi metodologi, dia telah memiliki prakonsepsi dan tidak mau dikritik, bahkan fanatis. Oleh karena itu, hati-hati dengan hasil karya mereka. Sebab, dari mereka ada yang bersikap halus. Dalam tulisan-tulisannya, mereka sengaja menyajikan Islam secara benar dan kejayaannya di masa silam. Tetapi, ada satu atau dua poin konsep yang sangat membahayakan mereka selipkan dalam tulisan itu. Pujian dan sanjungan mereka terhadap Islam di permulaan bertujuan untuk menggiring pembaca untuk membenarkan seluruh isi buku dan tidak merasakan hal-hal yang ganjil, sehingga berkesimpulan bahwa penulis tersebut jujur dan objektif.
Misalnya, kasus Noel J. Coulson, orientalis Inggris, guru besar "hukum Islam" di Universitas London. Sepintas lalu dengan membaca karya-karyanya, orang akan mengira bahwa Coulson adalah orientalis yang jujur. Karena, ia mengakui bahwa sistem hukum Islam adalah sistem yang dinamis, bisa digunakan, dan telah mengakar dalam sanubari umatnya. Berbeda sekali dengan pandangan gurunya, Joseph Schacht yang terang-terangan anti-hukum Islam, dan menuduhnya dengan sederetan tuduhan keji yang tidak masuk akal.
Di sela-sela sanjungannya dalam buku A History of Islamic Law, Coulson punya sejumlah pendapat yang aneh-aneh tentang kekuatan As-Sunnah sebagai sumber hukum dan tentang ushul fiqih. Coulson mengatakan bahwa Imam Syafi'i adalah "founder" 'penemu' ushul fiqih. Sebuah pendapat yang tidak pernah dibenarkan oleh ahli-ahli ushul fiqih sendiri. Ia juga berpendapat bahwa kedudukan As-Sunnah sebagai pelengkap Al-Qur'an untuk menyelami kehendak Ilahi pertama kali dikemukakan oleh Imam Syafi'i. Sepintas lalu Coulson terkesan mengagumi kehebatan Imam Syafi'i (yang memang hebat, walapun tidak perlu dikagumi Coulson), tetapi ada suatu kesan terselubung dari ungkapan itu. Yakni, bahwa sebelum Imam Syafi'i ilmu ushul fiqih belum ada. Padahal, rentang waktu dua abad sebelumnya justru merupakan pondasi berdirinya "building" ushul fiqih pada fase-fase berikutnya. Pandangan Coulson itu mengesankan bahwa sebelum datangnya Imam Syafi'i, para fuqaha tidak memiliki kerangka berijtihad yang disepakati bersama. Jelas ini merupakan sebuah pemutarbalikkan fakta. Lalu, bagaimana dahulu para fuqaha selama dua ratus tahun menetapkan hukum bagi kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat Islam, kalau mereka tidak punya standar yang disepakati bersama? Apakah mereka harus menunggu selama dua abad tidak berijtihad, hingga Imam Syafi'i datang?
4.      Banyak dari kajian-kajian orientalisme yang terkait erat dengan kepentingan negara-negara tertentu yang mendanai kajian itu. Percuma saja negara-negara Barat menghamburkan uangnya jutaan bahkan miliaran dollar hanya untuk kepentingan ilmiah semata, kalau bukan karena ada target-target tertentu yang sangat berharga bagi kepentingan mereka. Target itu bisa bersifat politis, bisnis, strategis, dan misi. Hal ini seperti pernah diungkap oleh Prof. Ismail al-Faruqi dalam sebuah artikelnya di majalah The Contemporary Muslim bahwa studi Islam di Barat, khususnya di Amerika Serikat, tidak pernah luput dari misi zionis dan salibis. Orientalis yang mengajar di jurusan itu, katanya, sebagian besar orang Yahudi atau Kristen fanatis. Di beberapa universitas Amerika, studi Islam ditempatkan di Fakultas Lahut (teologi), jurusan "misionarisme" dan materinya dikenal dengan "perbandingan agama".
Dosen-dosen yang ada di sana kerjanya mencari "titik-titik lemah" Islam untuk diserang. Oleh karena itu, kajian-kajian mereka banyak menyangkut aliran-aliran yang menyimpang. Misalnya, Syi'ah, Isma'iliyah, Tasawud (mistisisme), Ahmadiyah, an Baha'iyyah. Jika mereka belajar Al-Qur'an, hadits, dan fiqih, motivasinya adalah untuk mengkritik kebenaran materi-materi itu. Dan ultimate-goal-nya untuk mencari "titik-titik lemah". Sebagai misal, tulis Faruqi, "Pusat Studi Perbandingan Agama" di Harvard berada di bawah Fakultas Teologi. Demikian juga di Universitas Chicago. Tentang staf pengajar, semuanya nonmuslim. Kalaupun ada yang muslim, biasanya orang-orang yang tidak "laku" di negerinya, karena punya pikiran yang aneh-aneh. Mereka ini sengaja disambut hangat oleh Amerika Serikat karena pikiran mereka sejalan dengan misi Zionis. "Umpamanya seorang Prof. asal Pakistan," kata mantan guru besar Islamic Study di Temple Universitas itu memberi sontoh. Intelektual Pakistan ini sempat diusir oleh pemerintahnya karena dihukum murtad oleh seluruh ulama di negeri itu. Ungkapan Faruqi ini tentu bukan sekadar asumsi yang apriori. Sebab, ia terlibat langsung dalam "pergulanan" orientalisme di Amerika Serikat. Pengalamannya adalah sebagai ketua jurusan IS di Temple dan sebagai guru besar selama bertahun-tahun di AS dan berbagai universitas Barat lainnya. Sehingga, akhirnya ia mengakhiri hayatnya sebagai "syahid" karena dibunuh oleh agen-agen Zionis. Semua ini agaknya merupakan "pelajaran berharga bagi setiap orang yang hendak belajar Islam kepada orientalis. Itulah inti nasihat Al-Faruqi.
Sebagai seorang muslim yang baik tentu kita harus memikirkan secara jernih risiko dan dampaknya di kemudian hari. Jika hasil dari belajar Islam ke Barat ternyata seperti apa yang kita lihat hari ini, yaitu betapa banyaknya pikiran-pikiran yang menyimpang dari para alumni Barat, ini jelas memperkuat kebenaran analisis Faruqi. Ternyata bantuan luar negeri dalam bentuk beasiswa studi Islam di Barat sebenarnya adalah sebuah upaya merusak pemikiran. Sepintas lalu gejala ini sama dengan tawaran "supermi dan beras" kepada warga muslim yang miskin di beberapa tempat. Inilah yang telah diperingatkan oleh Allah di dalam Al-Qur'an (yang artinya), "Maka sekali-kali janganlah kamu tertipu oleh gemerlapnya kehidupan dunia dan sekali-kali janganlah syaithan yang pintar menipu, memperdayakan kamu tentang Allah." (Faathir: 5).[12]

b)     Studi Islam di Timur Tengah
Mengkaji fenomena keagamaan, berarti mempelajari perilaku manusia dalam kehidupannya beragama. Fenomena keagamaan itu sendiri, adalah perwujudan dari sikap dan prilaku manusia itu sendiri. Salah satu jalan untuk mempelajari islam itu sendiri adalah kita mulai dengan mempelajri Nabi Muhammad SAW, seiring dengan itu kita juga harus mengetahui sejarah tentang itu. Kepentingan mempelajri sejarah seusngguhnya cukup disadri oleh para pemikir islam. Umar bin Khattab berpendapat bahwa tali pengikat islam akan putus seutas demi seutas jika kaum muslimin tidak mengerti dengan sejarah. Demikian juga Mahammad Abduh dengan gigih memperjuangkan sejarah agar diajarkan di Universitas Al-Azhar. Ia adalah pengajar sejarah di Dar Al Ulum (didirikan pada tahun 1920 M oleh Khediv Isma’il) dengan menggunakan buku pegangan Muqaddimah karya Ibnu Khaldun untuk filasafat sejarah dan sejarah kemajuan Eropa dan Perancis Tulisan Guizot untuk sejarah politik.
Manusia memang tidak bisa membebaskan diri dari pengaruh lingkungan dalam menganalisis sejarah. Karena itu dalam melacak hasil pemikiran selalu terlihat adanya kaitan antara sikap hidup dan pandangan politik sang pemikir dengan hasil pemikirannya. Hal ini berlaku juga dalam penikiran dibidang keagamaan. Menurut ilmu-ilm sosial dan filosofis selalu ada kaitannya  dengan politik dan kemasyarakatan. Hubungan antara teologi dan politik, sangat dalam dan terlihat dengan jelas di Timur Tengah. Dalam kawasan Timur Tengah memperlihatkan hubungan yang erat antara teologi dan politik adalah suatu konsekuensi yayng logis. Karena memang disitulah lahirnya Agama –agama besar (samawi).[13]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1.        Studi Islam adalah pengakajian tentang ilmu-ilmu ke Islaman, adapun yang dimaksud dengan ilmu ke Islaman adalah pengkajian tidak hanya pada aspek-aspek yang normatif dan dogmatif, tetapi juga menyangkut pengkajian aspek sosiologis. Ilmu-ilmu Islam, meliputi kepercayaan-kepercayaan normatif-dogmatik yang bersumber dari wahyu dan aspek perilaku manusia yang lahir oleh dorongan kepercayaan yang menjadi kepercayaan-kepercayaan empirik. Oleh karena itu ilmu-ilmu kemasyarakatan yang berasal dari tradisi keilmuan barat, tidak mungkin dapat merangkul dalam metode pengkajian kedua aspek yang dipandang tidak mungkin dipertemukan menurut hukum-hukum logika ilmu pengetahuan, dalam metode ilmiyah yang mengandalkan segi-segi obyektifitas berdasarkan penalaran dan bukti empiris.
2.        Pada awalnya ilmu hanya ada dua, yaitu : ilmu kealaman dan ilmu budaya. Ilmu kealaman, seperti fisika, kimia, biologi dan lain-lain mempunyai tujuan utama mencari hukum- hukum alam, mencari keteraturan-keteraturan yang terjadi pada alam. Oleh karena itu suatu penemuan yang dihasilkan pada suatu waktu mengenai suatu gejala atau sifat alam dapat dites kembali oleh peneliti lain, pada waktu lain, dengan memperhatikan gejala eksak. Menurut M.Atho Mudzhar, di antara penelitian kealaman dan budaya, terdapat penelitian-penelitian ilmu-ilmu sosial. Sebab penelitian ilmu sosial berada  diantara ilmu budaya dan ilmu kelaman, yang mencoba untuk memahami gejala-gejala yang tidak berulang tetapi dengan cara memahami   keterulangannya.
3.        Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin tentunya mempunyai konsep atau ajaran yang bersifat manusiawi dan universal, yang dapat menyelamatkan ummat manusia dan alam semesta dari kehancurannya. Ajaran agama Islam telah tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan akal dan sosial budaya masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ajaran Islam telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan akal pikiran manusia serta sosial budayanya untuk mewujudkan suatu sosial budaya dan masyarakat yang Islami.
4.        Islam didefinisikan   sebagai   berikut: al-Islam   wahyu   ilahiyun   unzila   ila   nabiyyi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam lisa’adati al-dunya wa al akhirah  (Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat). Jadi, inti Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Maka kita percaya bahwa wahyu itu terdiri atas dua macam, yaitu : (1) wahyu yang berbetuk al- Qur’an, dan (2) wahyu yang bernetuk hadis, sunnah Nabi Muhammad saw.
5.        Belajar Islam ke Barat jadi masalah kontroversial. Sebab, dengan logika sederhana saja, orang dapat berpikir bahwa setiap disiplin ilmu haruslah dipelajari dari ahlinya (atau dari bangsa yang dikenal maju dalam bidang itu). Orang yang belajar pesawat terbang ke Jerman, belajar komputer ke Amerika, belajar kimia ke Perancis, dan sebagainya tentu itu sangat relevan.
6.        Beberapa kalangan mengganggap metodologi Barat lebih unggul, tetapi sebenarnya di situlah letak kerancuannya. Karena kerancuan metodologi, maka ilmu apa pun yang dipelajari dari Barat akan menghasilkan tashawwuf 'gambaran' yang serupa. Tidak hanya belajar tentang Islam, belajar yang lainnya, seperti politik, sosiologi, filsafat, dan ilmu-ilmu humanitas lainnya yang dikaitkan dengan Islam, akan sampai pada kesimpulan yang sama
7.        Mengkaji fenomena keagamaan, berarti mempelajari perilaku manusia dalam kehidupannya beragama. Fenomena keagamaan itu sendiri, adalah perwujudan dari sikap dan prilaku manusia itu sendiri. Salah satu jalan untuk mempelajari islam itu sendiri adalah kita mulai dengan mempelajri Nabi Muhammad SAW, seiring dengan itu kita juga harus mengetahui sejarah tentang itu. Kepentingan mempelajri sejarah seusngguhnya cukup disadri oleh para pemikir Islam.

8.        Manusia memang tidak bisa membebaskan diri dari pengaruh lingkungan dalam menganalisis sejarah. Karena itu dalam melacak hasil pemikiran selalu terlihat adanya kaitan antara sikap hidup dan pandangan politik sang pemikir dengan hasil pemikirannya. Hal ini berlaku juga dalam penikiran dibidang keagamaan. Menurut ilmu-ilm sosial dan filosofis selalu ada kaitannya  dengan politik dan kemasyarakatan. Hubungan antara teologi dan politik, sangat dalam dan terlihat dengan jelas di Timur Tengah. Dalam kawasan Timur Tengah memperlihatkan hubungan yang erat antara teologi dan politik adalah suatu konsekuensi yayng logis. Karena memang disitulah lahirnya Agama –agama besar (samawi).



B. SARAN
Setelah kita mempelajari dan diskusikan tentang pembahasan Isalam Sebagai Sasaran Studi dan Penelitian, penulis menyadari bahwa, makalah yang penulis buat masih banyak kekurangan baik dari segi kelengkapan dari pembahasan dan ketersediaan bahan dari penulis dan kesalahan penulisan kata-kata.
Penulis berharap kepada pembaca dan kita semua agar dapat memberikan kritik dan sarannya yang bersifat membangun bagi penulis dan bagi kita semua pada umumnya, untuk kesempurnaan makalah ini.





DAFTAR PUSTAKA
·         Abdullah, Taufik dan M. Rusli Karim,metodologi penelitian agama (sebuah pengantar), Yogyakarta: Tiarawacana,1989
·         Prof. Dr. Anwar, Rosihon M. Ag, H. Badruzzaman, M. Yunus M. A., dan Saehuddin, S. Th.I, Pengantar Studi Islam, Bandung : Pustaka Setia, 2004
·         Dra. Hakim, Rosniati, M. Ag, Metodologi Studi Islam, Padang : Hayfa Press, 2009
·         Mudzar, M. Atho, Pendekatan Studi dalam teori dan Praktek, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001
·         Suprayogo, Imam dan tobroni, metodologi penelitian sosial agama, Bandung : Rosda karya, 2001
·         Drs. Hujair, AH. Sanaky M. Si , Islam sebagai sasaran studi dan kebudayaan, http//:www.google.com/Islam-sebagai-sasaran-study-dan-kebudayaan.pdf/  diakses pada hari Sabtu, 10 maret 2012 pada jam 16.25 WIB.
·         Annisa. Abu, studi Islam di Barat, http//: alislamu.com/artikel/ studi-islam-di-barat, diakses pada hari senin 02 April 2012 pada jam 19.10 WIB


[1] Dra. Roshiati Hakim, M. Ag, Metodologi Studi Islam, (Padang : Hayfa Press, 2009) , hal. 7
[2] Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama, (Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yogya, 1989), hal.  5
[3] Imam suprayogo dan tobroni, metodologi penelitian sosial agama, (Bandung : Rosda karya, 2001) , hal. 6
[4] M.Atho  Mudzhar, Pendekatan Studi dalam teori dan Praktek, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001), ha.l 12
[5] M Atho Mudzhar,op.cit, hal 13
[6] Prof. Dr. Rosihon Anwar  M. Ag, H. Badruzzaman, M. Yunus M. A., dan Saehuddin, S. Th.I, Pengantar Studi Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2004), hal.  31
[7] Prof. Dr. Rosihon Anwar M. Ag, H. Badruzzaman, M. Yunus M. A., dan Saehuddin, S. Th.I, op.cit, hal 31
[8] Ibid, hal.  58-59
[9] M.Atho Mudzhar,op,cit, hal 19
[10] Prof. Dr. Rosihon Anwar M. Ag, H. Badruzzaman, M. Yunus M. A., dan Saehuddin, S. Th.I, op,cit, hal.  57
[11] Drs. AH. Sanaky Hujair MSI ,Islam sebagai sasaran studi dan kebudayaan, http//:www.google.com/Islam-sebagai-sasaran-study-dan-kebudayaan.pdf/  diakses pada hari Sabtu, 10 maret 2012 pada jam 16.25 WIB.

[12] http//: www. Alislamu.com/artikel/studi-islam-di-barat/ diakses pada senin 02 April 2012 pada jam 19.10 WIB
[13] Ibid, hal.  69

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar